banner 468x60

Melindungi Budaya Pasundan Yang Terancam Punah Di Jawa Tengah Melalui Pendidikan

 NASIONAL, SOSIAL
banner 468x60

Penyerahan foto repro keluarga Desa Dermaji pada 1979 hasil dokumentasi dan riset Guru Besar Linguistik Unpad, Prof. DR Cece Sobarna kepada Kepala Desa Dermaji, Bayu Setyo Nugroho untuk koleksi Museum Naladipa.

 

Kandang Menjangan News – Pada satu masa, budaya Pasundan sangatlah berpengaruh di wilayah yang kini secara administratif berada di Jawa Tengah. Bahkan, masyarakatnya pun bertutur dengan bahasa Sunda.

Jawa Tengah, sebagaimana diketahui, mayoritas berbahasa Jawa. Dialeknya beragam, ada bahasa Jawa khas Pantura, Jawa Wetan, hingga Banyumasan atau Ngapak.

Lantas bahasa Jawa menjadi bahasa daerah. Berbagai pengetahuan soal budaya Jawa, termasuk aksara Jawa diajarkan di sekolah-sekolah.

Penyusun kurikulum, sayangnya, tak mempertimbangkan keberadaan para penutur bahasa Sunda. Tak aneh jika kemudian, secara perlahan, bahasa Sunda di Jawa Tengah tersingkir dan terancam punah.

Salah satunya di Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas. Sekitar 20 atau 30 tahun silam, sebagian warga berkomunikasi dengan bahasa Sunda. Namun kini, bahasa Sunda di desa ini telah punah.

Jejak peradaban Sunda di Dermaji masih terlacak dari nama-nama Grumbul, tempat dan sungai yang berbau Sunda. Pun dengan desa-desa di sekitarnya. Misalnya, Misalnya Desa Cingebul yang berada di kecamatan yang sama.

Sedangkan di Dermaji sendiri, hingga kini beberapa grumbul masih bernama ‘Sunda’, antara lain Cibrewek, Citunggul, Cireang, Cijurig, dan beberapa grumbul lain.

Pakar Toponimi yang juga Guru Besar Linguistik Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof DR Cece Sobarna mengatakan, di Jawa tengah ada tiga kabupaten yang sebagian warganya bertutur dalam bahasa Sunda. Tiga kabupaten itu yakni, Cilacap, Banyumas, dan Brebes.

Namun, serupa dengan di Desa Dermaji, penutur bahasa Sunda yang tersebar di tiga kabupaten ini juga terancam punah. Karenanya, ia mengusulkan agar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Bahasa Sunda di Jawa Tengah.

 

Perda Perlindungan Bahasa Sunda

Perda itu akan menjadi payung hukum untuk melindungi bahasa Sunda yang kini sudah mengalami gejala kepunahan. Berdasar riset yang ia lakukan, penutur bahasa Sunda masih cukup banyak dijumpai di wilayah ini.

“Saya ke gubernur baru menyurati. Tapi belum ada respons. Coba lah diakomodasi, ya melalui Perda. Karena selama ini kan, Sunda dan Banyumasan. Tapi kan ada Sunda juga di situ. Nah, dengan adanya perda itu, gejala kepunahan bahasa bisa diantisipasi,” katanya, dalam Diskusi dan Workshop memahami Toponimi di Desa Dermaji, Jumat, 30 Agustus 2019.

Dia mengungkapkan, contoh gejala kepunahan terjadi di Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir, Banyumas. Di Desa ini, 20 atau 30 tahun silam sebagian masyarakatnya masih berkomunikasi dengan bahasa Sunda.

Bahkan, sebagian penduduk yang kini telah lanjut usia masih fasih berbahasa Sunda. Sayangnya, generasi sesudahnya tidak tidak lagi paham bahasa Sunda.

Dia menilai kepunahan bahasa Sunda di Jawa Tengah juga disebabkan keharusan bahasa Jawa sebagai bahasa lokal daerah. Karenanya, Perda tersebut akan berguna untuk melindungi bahasa Sunda di Jawa Tengah sebagai salah satu kekayaan lokal.

“Karena belajar dari kasus di sini, di Dermaji itu dulu tidak diajarkan bahasa Sunda. Jadi lama-lama hilang kan. Jadi untuk mencegah kepunahan bahasa secara luas,” dia menerangkan.

 

Peran Dunia Pendidikan untuk Lestarikan bahasa Sunda

Cece mengemukakan, keberadaan bahasa Sunda di Jawa Tengah juga menunjukkan bahwa jejak budaya Pasundan tumbuh dan berkembang pada masa lalu. Wilayah administratif kini tak lagi bisa menjadi acuan untuk mengajarkan sebuah budaya atau bahasa.

Penyeragaman pelajaran di sekolah-sekolah dikhawatirkan akan mempercepat kepunahan bahasa Sunda. Kepunahan penutur sebuah bahasa, menurut dia, adalah bencana kemanusiaan.

“Di Kabupaten Cilacap, Daeyuhluhur, itu murni berbahasa Sunda. Memang sudah diajarkan di sana. Tapi di kecamatan-kecamatan lain yang juga penduduknya berbahasa Sunda, belum,” dia mengungkapkan.

Terkait perlindungan bahasa Sunda, terobosan menarik dilakukan oleh Pemerintah Desa Dermaji, Lumbir, Banyumas. Pemdes bertekad melindungi bahasa Sunda sebagai salah satu kekayaan budaya desanya.

Bahkan, budaya Pasundan mendapat tempat istimewa di desa ini. Pemdes menyediakan tempat khusus untuk kekayaan budaya Sunda di Museum Naladipa. Namanya, Sunda corner.

Kepala Desa Dermaji, Bayu Setyo Nugroho mengatakan Dermaji secara administratif berada di Kabupaten Banyumas yang mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa Jawa Banyumasan atau Panginyongan.

Akan tetapi, menilik sejarahnya, bahasa Sunda pernah menjadi bahasa tutur sehari-hari masyarakat Dermaji pada masa silam. Sayangnya, penutur bahasa Sunda perlahan lenyap dan berganti menjadi bahasa Jawa.

 

Editor : 42

Sumber : Liputan 6

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply